Keamanan adalah aspek paling krusial dalam pembangunan fasilitas olahraga. Salah satu elemen yang sering terabaikan namun memiliki peran vital adalah jalur darurat. Jalur ini dirancang untuk memastikan evakuasi cepat bagi atlet, penonton, dan staf medis saat terjadi insiden tak terduga seperti kebakaran, bencana alam, atau kondisi medis darurat. Sayangnya, banyak pengelola atau kontraktor yang melakukan kesalahan fatal dalam perancangannya.
Kesalahan paling umum adalah pembuatan jalur evakuasi yang terlalu sempit. Seringkali, jalur darurat hanya dianggap sebagai "jalan kecil" di samping lapangan, tanpa memperhitungkan volume orang yang akan menggunakannya saat terjadi kepanikan.
Banyak pengelola lapangan olahraga menempatkan benda-benda yang menghalangi jalur darurat. Hal ini bisa berupa tempat sampah, bangku cadangan yang tidak tertata, hingga peralatan olahraga yang diletakkan sembarangan di area jalur evakuasi.
Jalur darurat harus steril dari segala jenis benda yang dapat menghambat pergerakan cepat.
Keberadaan hambatan fisik sekecil apa pun dapat menjadi kendala besar ketika visibilitas rendah (misalnya saat terjadi asap kebakaran) atau saat orang berlari dalam keadaan panik.
Sering ditemukan lapangan olahraga yang memiliki jalur evakuasi, namun tidak memiliki penanda yang jelas. Kesalahan ini meliputi:
Tanpa penandaan yang jelas, orang cenderung mengikuti arus massa yang belum tentu menuju ke arah keluar yang benar, yang justru bisa menggiring mereka menuju area yang lebih berbahaya.
Kesalahan teknis yang sangat berbahaya adalah penggunaan kunci manual pada pintu darurat. Demi alasan keamanan aset atau mencegah masuknya orang tak berkepentingan, beberapa pengelola mengunci pintu darurat dari luar atau dalam.
Dalam situasi darurat, pintu harus dapat dibuka dengan satu gerakan sederhana (misalnya menggunakan panic bar) tanpa memerlukan kunci. Pintu yang terkunci saat evakuasi dapat menyebabkan tragedi fatal karena massa terjebak di dalam ruangan.
Banyak jalur darurat yang berhenti tepat di pinggir lapangan, namun tidak terhubung secara lancar dengan area parkir ambulans atau jalan raya utama. Hal ini menciptakan "putusnya rantai evakuasi".
Idealnya, jalur darurat harus membentuk alur yang mulus dari titik terdalam lapangan hingga ke titik jemput medis. Jika jalur darurat terputus oleh pagar tinggi atau tangga yang curam tanpa ramp, maka proses evakuasi medis akan terhambat.
Kesalahan serius lainnya adalah tidak tersedianya aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Jalur darurat yang hanya berupa tangga tanpa ramp (bidang miring) membuat pengguna kursi roda atau orang dengan keterbatasan fisik terjebak.
Inklusivitas dalam desain jalur darurat adalah kewajiban. Setiap fasilitas olahraga harus menyediakan jalur landai yang memungkinkan evakuasi semua orang tanpa terkecuali.
Pembuatan jalur darurat bukan sekadar memenuhi syarat administratif perizinan, melainkan investasi keselamatan. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas—seperti memperlebar jalur, membersihkan obstruksi, memasang signage yang jelas, memastikan pintu mudah dibuka, mengintegrasikan akses medis, dan menyediakan akses difabel—pengelola lapangan olahraga dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi semua pengguna.