Membangun area penjualan atau fasilitas komersial di sekitar lapangan olahraga memerlukan perencanaan yang matang. Seringkali, pengelola hanya fokus pada kualitas lapangan itu sendiri, namun mengabaikan area pendukung seperti area penjualan tiket, merchandise, atau konsumsi. Kesalahan dalam perancangan area ini dapat menyebabkan penurunan pendapatan dan pengalaman buruk bagi pengunjung.
Salah satu kesalahan paling fatal adalah menempatkan area penjualan di lokasi yang sulit ditemukan atau jauh dari arus utama pengunjung. Area penjualan seharusnya berada di jalur masuk utama atau di titik-titik transit di mana pengunjung secara alami akan melintas.
Alur sirkulasi yang buruk sering menyebabkan penumpukan massa. Jika area penjualan tidak memiliki ruang tunggu atau jalur antrean yang jelas, pengunjung akan merasa tidak nyaman dan cenderung membatalkan niat untuk membeli.
Kesalahan umum meliputi tidak adanya pemisahan antara jalur orang yang sedang mengantre dengan orang yang sedang berjalan menuju tribun. Hal ini menciptakan kekacauan dan potensi gesekan antar pengunjung.
Di era digital, mengandalkan pembayaran tunai sepenuhnya adalah sebuah kesalahan besar. Banyak pengelola lapangan olahraga yang gagal menyediakan sistem pembayaran non-tunai (cashless), yang mengakibatkan proses transaksi menjadi lambat.
Kecepatan transaksi sangat krusial, terutama pada jeda istirahat pertandingan (half-time), di mana permintaan pembelian makanan dan minuman meningkat tajam dalam waktu singkat.
Karena area penjualan lapangan olahraga seringkali bersifat semi-terbuka, pemilihan material menjadi sangat penting. Kesalahan sering terjadi saat menggunakan material murah yang cepat rusak akibat panas matahari dan hujan.
Penggunaan kanopi yang tidak memadai menyebabkan area penjualan menjadi becek saat hujan, yang tidak hanya mengganggu kenyamanan pelanggan tetapi juga merusak stok barang dagangan.
Area penjualan yang terlihat kumuh atau tidak tertata rapi memberikan kesan kurang profesional. Penataan rak yang terlalu rapat atau meja kasir yang terlalu tinggi dapat membuat proses transaksi terasa kaku dan tidak efisien.
Banyak pengelola melakukan kesalahan dengan memajang terlalu banyak produk sehingga area terlihat penuh sesak, atau sebaliknya, terlalu sedikit sehingga terlihat kosong. Kurangnya strategi visual merchandising membuat produk unggulan tidak terlihat oleh mata pengunjung.
Kesalahan lain adalah tidak menyediakan fasilitas dasar seperti tempat sampah yang cukup atau area tempat duduk sementara. Pengunjung yang membeli makanan namun tidak menemukan tempat sampah cenderung meninggalkan sampah di sekitar area penjualan, yang kemudian merusak citra kebersihan fasilitas olahraga tersebut.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, pengelola harus melakukan pemetaan jalur pengunjung (user journey mapping) sebelum membangun area penjualan. Integrasi antara efisiensi ruang, kecepatan transaksi, dan kenyamanan pengunjung adalah kunci utama dalam meningkatkan profitabilitas area komersial di fasilitas olahraga.